Langsung ke konten utama

🎬 ASEM BUYUT: Tanah Itu Bukan Milikmu Tagline: “Yang tumbang hanya pohonnya… bukan penunggunya.”

 Di ujung kebun yang berbatasan dengan rumpun bambu tua, berdiri pohon asem yang usianya lebih tua dari rumah-rumah di sekitarnya. Batangnya menghitam, retak-retak seperti kulit yang terlalu lama terbakar matahari. Akar-akar besarnya menyembul dari tanah, melilit dan merayap seperti ular raksasa yang sedang tidur—atau mungkin sedang menunggu.

Warga menyebutnya Asem Buyut.



Saat senja turun, kebun itu berubah. Sunyi menjadi pekat. Angin tidak lagi sekadar berembus—ia seperti membelai daun-daun dengan bisikan lirih, seolah menyampaikan pesan yang tak ingin didengar manusia.

Pak Raharjo berdiri di hadapan pohon itu dengan dada membusung.

“Besok kita tebang,” katanya datar.

Pak Wiryo, mertuanya, menatap batang pohon itu lama sekali. Matanya keruh, seperti menyimpan ingatan yang tak ingin dihidupkan kembali.

“Pohon itu bukan cuma kayu,” bisiknya. “Ia penjaga.”

Raharjo tersenyum tipis.
“Penjaga apa? Ini tanah saya.”

Malam itu, udara di sekitar kebun terasa berbeda. Lembap. Berat. Seperti ada napas panjang yang tertahan di antara akar-akar.


Pagi berikutnya, Pak Sutrisno datang membawa gergaji mesin. Suara mesinnya meraung, memecah ketenangan seperti jeritan logam yang diseret di atas batu.

Saat ia menyentuh batang asem, telapak tangannya terasa dingin. Terlalu dingin untuk kayu yang terpapar matahari.

“Aneh…” gumamnya.

Ia mulai memanjat. Setiap pijakan terasa licin, meski tak ada lumut. Semakin tinggi ia naik, angin mendadak berhenti. Sunyi merayap naik ke tengkuknya.

Lalu—bau itu datang.

Anyir. Pekat. Seperti darah yang lama mengering di tanah basah.

“Pak… di atas ini—”

Kalimatnya terputus.

Tubuhnya terhentak.

Bukan tergelincir. Bukan salah pijak.

Terhentak.

Seolah dua tangan tak terlihat mendorong dadanya dengan kasar.

Ia jatuh.

Tubuhnya menghantam tanah dengan bunyi berat yang membuat dedaunan bergetar. Burung-burung beterbangan panik. Namun anehnya, tak ada dahan patah. Tak ada bekas pijakan rapuh.

Pak Sutrisno terbaring dengan napas terengah. Matanya membelalak, menatap ke atas.

“Dia… lihat saya,” bisiknya gemetar.

“Siapa?” bentak Raharjo.

Pak Sutrisno tak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pucuk pohon yang bergoyang pelan—padahal angin telah lama mati.

Namun pekerjaan tetap dilanjutkan.

Gergaji menggigit batang. Suaranya melengking, seperti jeritan panjang yang ditahan bertahun-tahun. Serbuk kayu beterbangan, menusuk hidung dengan bau getir.

Saat pohon itu tumbang, dentumannya mengguncang tanah. Getarannya terasa sampai ke dada. Dari akar yang tercabut, keluar tanah hitam pekat, berlendir, dan berbau busuk seperti kubur yang dibuka paksa.

Dan di sela akar itu, sesaat, terlihat sesuatu—helaian kain putih kusam yang terkoyak, lalu tertutup kembali oleh tanah yang seperti bergerak sendiri.

Pak Wiryo yang datang sore itu langsung pucat.

“Kamu membangunkan yang tidak boleh dibangunkan,” katanya pelan, suaranya bergetar seperti daun kering.

Raharjo mendengus. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia sulit tidur.


Tiga hari kemudian, Pak Sutrisno jatuh sakit.

Demamnya tinggi. Tubuhnya menggigil meski udara panas. Malam hari, ia duduk di sudut kamar, memeluk lutut, bergumam pada bayangan yang merayap di dinding.

Istrinya mencium bau tanah setiap kali ia mendekat. Bau lembap. Bau kubur.

“Turunkan aku…” bisiknya suatu malam. “Aku tidak kuat digantung lagi…”

Tubuhnya mendadak kaku.

Matanya terbalik ke atas.

Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suaranya—lebih berat, serak, seperti suara orang tua yang tenggelam dalam sumur.

“Aku sudah di sana… lama sekali…”

Ia muntah.

Yang keluar bukan hanya cairan, tetapi serpihan daun asem dan tanah hitam yang berlendir. Lantai kamar dipenuhi bau anyir menyengat.

Setiap magrib, ia menjerit. Jeritan yang panjang. Melengking. Mengiris udara seperti kain disobek perlahan.


Sementara itu, Raharjo mulai diganggu mimpi.

Dalam mimpinya, kebun itu kembali utuh. Pohon asem berdiri lebih tinggi dari sebelumnya. Batangnya berdenyut pelan, seperti memiliki nadi. Dari baliknya, muncul sosok perempuan berambut panjang, wajahnya pucat seperti mayat yang baru diangkat dari sungai.

Matanya kosong. Dingin seperti tatapan jenazah.

Ia tak berjalan.

Ia melayang.

Dan setiap kali Raharjo mencoba berlari, akar-akar pohon mencengkeram kakinya, merayap naik seperti belenggu hidup.

Ia terbangun dengan napas terengah. Bau tanah memenuhi kamar, meski lantainya bersih.


Kabar kematian Pak Sutrisno datang saat magrib menggantung di langit.

Ia meninggal dengan mata terbuka lebar. Tatapannya membeku pada sudut ruangan yang gelap. Di sudut itu, tanah membentuk lingkaran kecil, seperti bekas sesuatu yang berdiri lama di sana.

Sejak hari itu, kebun Raharjo tak pernah benar-benar sunyi.

Malam-malam dipenuhi suara gesekan. Seperti akar diseret pelan di atas tanah. Kadang terdengar tawa lirih—tipis, misterius, dan terlalu dekat.

Suatu malam, ketika angin tak berembus, Raharjo mendengar bisikan tepat di belakang telinganya.

Angin malam membisikkan namanya.

Pelan.

Berulang.

Ia menoleh cepat.

Tak ada siapa-siapa.

Namun di bekas tunggul pohon, terlihat bayangan tinggi menjulang. Rindang. Berdaun lebat.

Padahal pohonnya sudah tak ada.

Keesokan paginya, warga menemukan Raharjo duduk di tanah, tepat di tengah kebun. Tangannya menggali tanpa henti. Kukunya berdarah. Wajahnya kosong, seperti jiwanya tertinggal di tempat lain.

Di sekelilingnya, tunas-tunas asem tumbuh rapat. Hijau. Segar. Mengitari tubuhnya seperti lingkaran tak kasatmata.

Sejak itu, tak ada yang berani melewati kebun itu saat magrib.

Karena kadang, di antara kabut yang turun perlahan, terlihat siluet pohon besar berdiri kembali—lebih gelap dari malam, lebih sunyi dari kubur, dan lebih hidup daripada yang seharusnya mati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ETIKA ADMINISTRASI PUBLIK (DEFINISI, URGENSI, PERKEMBANGAN, DAN LANDASAN)

TUGAS TERSTRUKTUR ETIKA ADMINISTRASI PUBLIK (DEFINISI, URGENSI, PERKEMBANGAN, DAN LANDASAN) Disusun Oleh : KELOMPOK 1 Susanto P2FB12017 Regas Febria Yuspita P2FB12004 Rahmat Imanda P2FB12021 Ary Yuliastri P2FB12008 UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PURWOKERTO 2012 Etika Administrasi Publik (Definisi, Urgensi, Perkembangan, dan Landasan) Oleh : Kelompok 1 Pendahuluan Etika administrasi publik pertama kali muncul pada masa klasik. Hal ini disebabkan karena teori administrasi publik klasik (Wilson, Weber, Gulick, dan Urwick) kurang memberi tempat pada pilihan moral (etika). Pada teori klasik kebutuhan moral administrator hanyalah merupakan keharusan untuk menjalankan tugas sehari-hari secara efisien. Dengan diskresi yang dimiliki, administrator publik pun tidak hanya harus efisien, tapi juga harus d...

Bagaimana Cara Melembuhkan Hati

Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh. Saudara-saudaraku seakidah : Sesungguhnya kelembutan, kekhusyu’an serta keluluhan hati kepada Sang Pencipta dan Yang membentuk hati-hati tersebut merupakan suatu pemberian dari Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) dan sebuah karunia dari Ad-Dayyan (Yang membuat perhitungan) yang patut mendapatkan maaf dan ampunan-Nya. Menjadi tempat perlindungan yang kokoh dan benteng yang tidak dapat ditembus dari kesesatan dan kemaksiatan. Tidaklah hati yang lembut kepada Allah Azza wa Jalla melainkan pemiliknya (adalah) seorang yang bersegara mengejar segala bentuk kebajikan dan sigap terhadap segala bentuk keta’atan dan keridhaan. Tiada kelembutan dan keluluhan hati kepada Allah Azza wa Jalla melainkan anda akan mendapati pemiliknya sebagai orang yang paling menaruh perhatian penuh terhadap segala bentuk ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Tiadalah ia diingatkan melainkan sege...

Simak Doa Yang Sangat Indah dan Menyejukkan Hati Ini

♥ Ya Allah berilah aku kesabaran di saat tak ada solusi bagi seluruh masalah dan tantangan hidupku kecuali hanya kesabaran. ♥ Ya Allah teguhkanlah aku dengan kalimat peneguh dariMu dal am kehidupan dunia maupun di akhirat kelak. ♥ Ya Allah penuhilah hatiku dengan keyakinan di saat semua manusia meremehkan agamaMu dan meragukan janji-janjiMu. ♥ Ya Allah berilah aku keberanian di saat ketakutan pada musuh-musuhMu dan kepengecutan melanda hati manusia. ♥ Ya Allah berikan aku tekad dan kekuatan untuk tetap berada di jalan kebenaran dan ilhamilah aku melakukan semua kebaikan yang Engkau sukai. ♥ Ya Allah berikanlah aku bagian dari seluruh kabaikan yang diminta dan Engkau berikan kpd Nabi-Mu dan hamba-nabiMu yang saleh. ♥ Ya Allah turunkanlah ketenangan dan ketegaran dalam hatiku pada setiap cobaan dan goncangan yang merintangi jalan perjuanganku. ♥ Ya Allah bersihkan hatiku dari segala bentuk kemunafikan, riya, keangkuhan, penuhilah hatiku dengna keikhlasan, kejujuran ...