Di ujung kebun yang berbatasan dengan rumpun bambu tua, berdiri pohon asem yang usianya lebih tua dari rumah-rumah di sekitarnya. Batangnya menghitam, retak-retak seperti kulit yang terlalu lama terbakar matahari. Akar-akar besarnya menyembul dari tanah, melilit dan merayap seperti ular raksasa yang sedang tidur—atau mungkin sedang menunggu.
Warga menyebutnya Asem Buyut.
Saat senja turun, kebun itu berubah. Sunyi menjadi pekat. Angin tidak lagi sekadar berembus—ia seperti membelai daun-daun dengan bisikan lirih, seolah menyampaikan pesan yang tak ingin didengar manusia.
Pak Raharjo berdiri di hadapan pohon itu dengan dada membusung.
“Besok kita tebang,” katanya datar.
Pak Wiryo, mertuanya, menatap batang pohon itu lama sekali. Matanya keruh, seperti menyimpan ingatan yang tak ingin dihidupkan kembali.
“Pohon itu bukan cuma kayu,” bisiknya. “Ia penjaga.”
Raharjo tersenyum tipis.
“Penjaga apa? Ini tanah saya.”
Malam itu, udara di sekitar kebun terasa berbeda. Lembap. Berat. Seperti ada napas panjang yang tertahan di antara akar-akar.
Pagi berikutnya, Pak Sutrisno datang membawa gergaji mesin. Suara mesinnya meraung, memecah ketenangan seperti jeritan logam yang diseret di atas batu.
Saat ia menyentuh batang asem, telapak tangannya terasa dingin. Terlalu dingin untuk kayu yang terpapar matahari.
“Aneh…” gumamnya.
Ia mulai memanjat. Setiap pijakan terasa licin, meski tak ada lumut. Semakin tinggi ia naik, angin mendadak berhenti. Sunyi merayap naik ke tengkuknya.
Lalu—bau itu datang.
Anyir. Pekat. Seperti darah yang lama mengering di tanah basah.
“Pak… di atas ini—”
Kalimatnya terputus.
Tubuhnya terhentak.
Bukan tergelincir. Bukan salah pijak.
Terhentak.
Seolah dua tangan tak terlihat mendorong dadanya dengan kasar.
Ia jatuh.
Tubuhnya menghantam tanah dengan bunyi berat yang membuat dedaunan bergetar. Burung-burung beterbangan panik. Namun anehnya, tak ada dahan patah. Tak ada bekas pijakan rapuh.
Pak Sutrisno terbaring dengan napas terengah. Matanya membelalak, menatap ke atas.
“Dia… lihat saya,” bisiknya gemetar.
“Siapa?” bentak Raharjo.
Pak Sutrisno tak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pucuk pohon yang bergoyang pelan—padahal angin telah lama mati.
Namun pekerjaan tetap dilanjutkan.
Gergaji menggigit batang. Suaranya melengking, seperti jeritan panjang yang ditahan bertahun-tahun. Serbuk kayu beterbangan, menusuk hidung dengan bau getir.
Saat pohon itu tumbang, dentumannya mengguncang tanah. Getarannya terasa sampai ke dada. Dari akar yang tercabut, keluar tanah hitam pekat, berlendir, dan berbau busuk seperti kubur yang dibuka paksa.
Dan di sela akar itu, sesaat, terlihat sesuatu—helaian kain putih kusam yang terkoyak, lalu tertutup kembali oleh tanah yang seperti bergerak sendiri.
Pak Wiryo yang datang sore itu langsung pucat.
“Kamu membangunkan yang tidak boleh dibangunkan,” katanya pelan, suaranya bergetar seperti daun kering.
Raharjo mendengus. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia sulit tidur.
Tiga hari kemudian, Pak Sutrisno jatuh sakit.
Demamnya tinggi. Tubuhnya menggigil meski udara panas. Malam hari, ia duduk di sudut kamar, memeluk lutut, bergumam pada bayangan yang merayap di dinding.
Istrinya mencium bau tanah setiap kali ia mendekat. Bau lembap. Bau kubur.
“Turunkan aku…” bisiknya suatu malam. “Aku tidak kuat digantung lagi…”
Tubuhnya mendadak kaku.
Matanya terbalik ke atas.
Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suaranya—lebih berat, serak, seperti suara orang tua yang tenggelam dalam sumur.
“Aku sudah di sana… lama sekali…”
Ia muntah.
Yang keluar bukan hanya cairan, tetapi serpihan daun asem dan tanah hitam yang berlendir. Lantai kamar dipenuhi bau anyir menyengat.
Setiap magrib, ia menjerit. Jeritan yang panjang. Melengking. Mengiris udara seperti kain disobek perlahan.
Sementara itu, Raharjo mulai diganggu mimpi.
Dalam mimpinya, kebun itu kembali utuh. Pohon asem berdiri lebih tinggi dari sebelumnya. Batangnya berdenyut pelan, seperti memiliki nadi. Dari baliknya, muncul sosok perempuan berambut panjang, wajahnya pucat seperti mayat yang baru diangkat dari sungai.
Matanya kosong. Dingin seperti tatapan jenazah.
Ia tak berjalan.
Ia melayang.
Dan setiap kali Raharjo mencoba berlari, akar-akar pohon mencengkeram kakinya, merayap naik seperti belenggu hidup.
Ia terbangun dengan napas terengah. Bau tanah memenuhi kamar, meski lantainya bersih.
Kabar kematian Pak Sutrisno datang saat magrib menggantung di langit.
Ia meninggal dengan mata terbuka lebar. Tatapannya membeku pada sudut ruangan yang gelap. Di sudut itu, tanah membentuk lingkaran kecil, seperti bekas sesuatu yang berdiri lama di sana.
Sejak hari itu, kebun Raharjo tak pernah benar-benar sunyi.
Malam-malam dipenuhi suara gesekan. Seperti akar diseret pelan di atas tanah. Kadang terdengar tawa lirih—tipis, misterius, dan terlalu dekat.
Suatu malam, ketika angin tak berembus, Raharjo mendengar bisikan tepat di belakang telinganya.
Angin malam membisikkan namanya.
Pelan.
Berulang.
Ia menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di bekas tunggul pohon, terlihat bayangan tinggi menjulang. Rindang. Berdaun lebat.
Padahal pohonnya sudah tak ada.
Keesokan paginya, warga menemukan Raharjo duduk di tanah, tepat di tengah kebun. Tangannya menggali tanpa henti. Kukunya berdarah. Wajahnya kosong, seperti jiwanya tertinggal di tempat lain.
Di sekelilingnya, tunas-tunas asem tumbuh rapat. Hijau. Segar. Mengitari tubuhnya seperti lingkaran tak kasatmata.
Sejak itu, tak ada yang berani melewati kebun itu saat magrib.
Karena kadang, di antara kabut yang turun perlahan, terlihat siluet pohon besar berdiri kembali—lebih gelap dari malam, lebih sunyi dari kubur, dan lebih hidup daripada yang seharusnya mati.

Komentar
Posting Komentar