Di sebuah desa yang bertengger di lereng Gunung Andes yang berkabut, hidung Tupac kembang kempis menghirup udara dingin. Di zaman Kekaisaran Inca yang agung itu, anak-anak tidak bermain sepak bola. Mereka berlatih ketangkasan untuk bertahan hidup. Di desa itu, anak-anak terbagi menjadi dua kelompok yang sering berlatih bersama, tetapi diam-diam saling bersaing. Tim Elang , yang terinspirasi dari ketajaman burung kondor, terkenal mengandalkan strategi dan kerja sama. Sementara Tim Jaguar , yang terinspirasi dari kegagahan sang penguasa hutan, lebih percaya pada keberanian dan kekuatan. " Tim Elang selalu menang karena terlalu banyak berpikir, bukan karena berani! " ejek seorang anggota Tim Jaguar sambil tertawa. Seorang anak Tim Elang membalas dengan senyum tipis. " Setidaknya kami tidak asal menyerang tanpa rencana seperti kalian. " Tupac dan Cusi hanya saling berpandangan. Mereka memang saling menghormati, tetapi diam-diam sama-sama ingin membuktikan bahwa tim mere...
Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam, namun ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu dingin. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tipis diletakkan oleh tangan yang gemetar. “Ini uang belanja bulan ini, Mas. Jumlahnya senggaja aku samakan dengan bulan lalu,” ucap Sarah dengan suara sepelan mungkin. Ia berusaha menjaga agar tidak ada nada pamer atau merendahkan di dalamnya. Rendra, suaminya, menatap amplop itu tanpa minat. Sejak perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan setahun lalu, Rendra hanya mengandalkan pendapatan dari toko online kecilnya yang sepi. Di saat yang sama, karier Sarah sebagai manajer pemasaran justru melesat tajam. Gaji Sarah kini empat kali lipat dari sisa tabungan Rendra. Rendra menghela napas panjang, mendorong amplop itu kembali ke tengah meja. “Simpan saja, Rah. Kamu kan punya uang banyak sekarang. Kamu bisa beli apa saja tanpa perlu menunggu uang dari toko online-ku yang tidak seberapa ini.” “Tapi ini kewajibanmu, M...