Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Kondor dan Jaguar Bersatu

Di sebuah desa yang bertengger di lereng Gunung Andes yang berkabut, hidung Tupac kembang kempis menghirup udara dingin. Di zaman Kekaisaran Inca yang agung itu, anak-anak tidak bermain sepak bola. Mereka berlatih ketangkasan untuk bertahan hidup. Di desa itu, anak-anak terbagi menjadi dua kelompok yang sering berlatih bersama, tetapi diam-diam saling bersaing. Tim Elang , yang terinspirasi dari ketajaman burung kondor, terkenal mengandalkan strategi dan kerja sama. Sementara Tim Jaguar , yang terinspirasi dari kegagahan sang penguasa hutan, lebih percaya pada keberanian dan kekuatan. " Tim Elang selalu menang karena terlalu banyak berpikir, bukan karena berani! " ejek seorang anggota Tim Jaguar sambil tertawa. Seorang anak Tim Elang membalas dengan senyum tipis. " Setidaknya kami tidak asal menyerang tanpa rencana seperti kalian. " Tupac dan Cusi hanya saling berpandangan. Mereka memang saling menghormati, tetapi diam-diam sama-sama ingin membuktikan bahwa tim mere...
Postingan terbaru

Mahar yang Tertukar

  Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam, namun ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu dingin. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tipis diletakkan oleh tangan yang gemetar. “Ini uang belanja bulan ini, Mas. Jumlahnya senggaja aku samakan dengan bulan lalu,” ucap Sarah dengan suara sepelan mungkin. Ia berusaha menjaga agar tidak ada nada pamer atau merendahkan di dalamnya. Rendra, suaminya, menatap amplop itu tanpa minat. Sejak perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan setahun lalu, Rendra hanya mengandalkan pendapatan dari toko online kecilnya yang sepi. Di saat yang sama, karier Sarah sebagai manajer pemasaran justru melesat tajam. Gaji Sarah kini empat kali lipat dari sisa tabungan Rendra. Rendra menghela napas panjang, mendorong amplop itu kembali ke tengah meja. “Simpan saja, Rah. Kamu kan punya uang banyak sekarang. Kamu bisa beli apa saja tanpa perlu menunggu uang dari toko online-ku yang tidak seberapa ini.” “Tapi ini kewajibanmu, M...

Azab Mataram Kuno : Kenapa Borobudur Sempat Lenyap

Di bawah langit senja bhumi Mataram Kuno, bayang-bayang kemegahan Samaratungga mulai pudar oleh keserakahan manusia. Borobudur berdiri agung sebagai mercusuar darma, namun di sekelilingnya, manusia justru memilih jalan kegelapan. Konsep Sukhaduhkha telah dilupakan, berganti dengan derita yang diciptakan oleh tangan mereka sendiri. Di balai-balai desa, para nayaka dan penarik pajak tidak lagi jujur. Mereka memanipulasi kitab pembukuan tanah, memeras para petani miskin melebihi titah raja, lalu menimbun pundi-pundi emas di bawah lantai rumah mereka sendiri. Korupsi merajalela dari tingkat pejabat hingga pedagang pasar. Di jalur-jalur dagang yang membelah hutan, jeritan ketakutan kerap memecah malam. Komplotan bandit merampok kereta dagang, menyita harta, dan tak jarang meninggalkan korban jiwa. Fajar sering kali membawa kabar duka. Penemuan mayat tanpa identitas di tepian sungai membuat warga desa saling tuduh demi menghindari denda wankai kabunan dari kerajaan. Di balik bilik-bilik b...

Riak Cinta di Batas Tradisi

  Palembang, 1955. Di sebuah rumah limas yang megah, Siti Fatimah—atau yang akrab dipanggil Fatim —menatap kosong ke luar jendela. Sebagai putri seorang bangsawan Palembang bergelar Kemas , kecantikannya adalah buah bibir di sepanjang Sungai Musi. Kulitnya seputih langsat, matanya indah dinaungi bulu mata lentik. Namun, senyumnya telah lama hilang. Ayahnya telah memutuskan. Fatim dijodohkan dengan seorang pria mapan yang bekerja di Permina (cikal bakal Pertamina). Pria itu kaya, terpandang, namun bagi Fatim, hatinya hampa. Menolak secara terang-terangan adalah hal mustahil dalam tatanan adat yang kaku. Suatu malam, dengan bantuan bibinya—satu-satunya orang dewasa yang memahami jeritan hatinya—Fatim nekat melarikan diri. Mereka menumpang kapal uap, membelah ombak menuju Batavia (Jakarta), mencari secercah kebebasan. Pertemuan di Tanah Rantau Jakarta adalah dunia baru yang bising bagi Fatim. Untuk menenangkan jiwanya yang gelisah, suatu sore ia berjalan-jalan di dekat sebuah masjid t...

Ruang Digital, Tanggung Jawab Publik, dan Perlindungan Anak

  Ruang Digital, Tanggung Jawab Publik, dan Perlindungan Anak Di era media sosial, sebuah pernyataan yang pernah diucapkan bertahun-tahun lalu dapat kembali muncul dan menyebar dalam hitungan jam. Fenomena ini kembali terlihat ketika pengakuan lama dari Mimi Peri dalam percakapannya dengan Nikita Mirzani viral di berbagai platform digital. Percakapan tersebut memicu perdebatan publik karena menyentuh isu sensitif terkait hubungan sosial, kesehatan, dan persepsi masyarakat tentang penyakit menular seperti HIV/AIDS . Viralnya kembali pernyataan lama ini memperlihatkan satu hal yang semakin nyata di zaman digital: ruang publik tidak lagi terbatas pada panggung atau media massa tradisional. Media sosial telah menjadi arena percakapan global yang memungkinkan siapa pun menyampaikan pendapatnya kepada jutaan orang sekaligus. Dalam situasi seperti ini, setiap ucapan—terlebih dari figur publik—memiliki potensi dampak yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan. Masalahnya bukan sek...

Di Antara Jalan Berlubang dan SUV Rp 8,5 Miliar

  SAMARINDA — Di satu sudut Kalimantan Timur, seorang ibu mendorong sepeda motornya pelan-pelan melewati jalan berlubang yang tergenang air. Di sudut lain, pemerintah provinsi bersiap menghadirkan kendaraan dinas baru bagi gubernur: SUV 3.000 cc berteknologi hybrid dengan banderol Rp 8,5 miliar. Kontras itu terasa getir. Polemik bermula ketika rencana pengadaan mobil dinas untuk Gubernur Rudy Mas’ud mencuat ke publik. Di tengah kritik, sang gubernur menjawab dengan kalimat yang kemudian viral: “Masa iya kepala daerahnya mau pakai mobil ala kadarnya? Jangan dong.” Pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai pembelaan atas kebutuhan representasi dan mobilitas di wilayah yang medannya tidak mudah. Kalimantan Timur memang luas, sebagian jalannya rusak, dan posisinya strategis sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara. Namun bagi warga yang saban hari bergulat dengan jalan berlubang, harga sembako yang naik, dan penghasilan yang tak menentu, kalimat itu terdengar lain: seperti jarak yang mak...

Ketika Guru Honorer Dipidana: Pelajaran tentang Proporsionalitas Hukum

  Oleh: —— Keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) menghentikan penyidikan kasus guru honorer di Probolinggo menjadi titik refleksi penting bagi penegakan hukum di Indonesia. Seorang guru tidak tetap, Muhammad Misbahul Huda, sempat ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Probolinggo karena merangkap jabatan sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) dan menerima honor dari dua sumber anggaran negara. Kasus ini sempat viral dan disorot luas, termasuk oleh BBC Indonesia. Publik terbelah: antara yang menuntut ketegasan hukum dan yang mempertanyakan rasa keadilan dalam mempidanakan seorang guru honorer. Namun, lebih dari sekadar viralitas, perkara ini menyentuh jantung persoalan yang lebih mendasar: apakah setiap pelanggaran administratif harus berujung pidana? Antara Administrasi dan Kriminalisasi Dalam hukum pidana, khususnya perkara korupsi, unsur utama bukan hanya adanya penerimaan uang, tetapi juga perbuatan melawan hukum, niat jahat (mens rea), serta kerugian neg...