Langsung ke konten utama

Postingan

Standar Ganda, Panggung Media, dan Kegelisahan Moral Kita

Ramadan selalu menghadirkan dua wajah Indonesia. Di satu sisi, kabar-kabar meneduhkan: umat Katolik di Salatiga berbagi takjil; tiga ulama Timur Tengah menjadi imam tarawih di Banda Aceh ; kajian Ramadan menghadirkan Panglima TNI dan Ustaz Adi Hidayat di Masjid Baret Hijau. Di sisi lain, linimasa riuh oleh kontroversi—soal harga bawang putih, kebersihan kota selama Ramadan di Yogyakarta , hingga polemik seorang pria yang menikah dengan sesama jenis dan menggelar tur berbayar bertemu penggemar. Di tengah riuh itu, perdebatan moral kembali mengemuka. Sebagian pihak menilai fenomena tersebut sebagai puncak dari proses panjang “normalisasi”—dari panggung hiburan, sinetron, komedi, hingga media sosial—yang dianggap membiasakan publik pada ekspresi gender nonkonvensional. Lalu ketika ekspresi itu berubah menjadi pernyataan identitas dan klaim hak, kemarahan meledak. Di sinilah tudingan “standar ganda” dilayangkan: kita terhibur ketika ia tampil sebagai komedi, tetapi murka ketika ia menuntu...
Postingan terbaru

Di Antara Paspor dan Nasionalisme

Oleh: Regas Febria Yuspita Satu kalimat pendek mengoyak ruang digital. “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.” Ucapan Dwi Sasetyaningtyas—Tyas—itu melesat di media sosial, memantik perdebatan tentang nasionalisme, privilese, dan tanggung jawab moral penerima beasiswa negara. Dalam hitungan jam, linimasa berubah menjadi ruang sidang. Tyas bukan nama sembarangan. Ia alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung yang melanjutkan studi magister di Delft University of Technology melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Bidang yang dipilihnya—Sustainable Energy Technology—sejalan dengan agenda transisi energi yang belakangan menjadi prioritas global. Seusai lulus pada 2017, Tyas menyatakan kembali ke Indonesia. Ia mengaku menetap selama enam tahun untuk memenuhi kewajiban pengabdian. Dalam kurun itu, ia terlibat dalam pengembangan energi surya di Pulau Sumba, pengelolaan sampah organik melalui platform “Kawan Kompos”, hingga penanaman ribuan mangrove di pesisir. Ia...

🎬 ASEM BUYUT: Tanah Itu Bukan Milikmu Tagline: “Yang tumbang hanya pohonnya… bukan penunggunya.”

 Di ujung kebun yang berbatasan dengan rumpun bambu tua, berdiri pohon asem yang usianya lebih tua dari rumah-rumah di sekitarnya. Batangnya menghitam, retak-retak seperti kulit yang terlalu lama terbakar matahari. Akar-akar besarnya menyembul dari tanah, melilit dan merayap seperti ular raksasa yang sedang tidur—atau mungkin sedang menunggu. Warga menyebutnya Asem Buyut. Saat senja turun, kebun itu berubah. Sunyi menjadi pekat. Angin tidak lagi sekadar berembus—ia seperti membelai daun-daun dengan bisikan lirih, seolah menyampaikan pesan yang tak ingin didengar manusia. Pak Raharjo berdiri di hadapan pohon itu dengan dada membusung. “Besok kita tebang,” katanya datar. Pak Wiryo, mertuanya, menatap batang pohon itu lama sekali. Matanya keruh, seperti menyimpan ingatan yang tak ingin dihidupkan kembali. “Pohon itu bukan cuma kayu,” bisiknya. “Ia penjaga.” Raharjo tersenyum tipis. “Penjaga apa? Ini tanah saya.” Malam itu, udara di sekitar kebun terasa berbeda. Lembap. Berat. Seperti ...

Ketika Fandom Menjadi Medan Nasionalisme Digital

Insiden konser DAY6 di Axiata Arena pada 31 Januari 2026 sejatinya perkara sederhana: dugaan pelanggaran aturan dengan membawa kamera profesional ke dalam venue. Namun di era media sosial, perkara teknis bisa menjelma menjadi pertarungan harga diri kolektif. Apa yang bermula dari teguran di arena konser berubah menjadi konflik regional antara netizen Korea Selatan (Knetz) dan Asia Tenggara (SEAblings), lengkap dengan tudingan rasisme, stereotip ekonomi, hingga saling sindir lintas bahasa di platform X. Peristiwa ini memperlihatkan satu hal penting: globalisasi budaya tidak otomatis menghapus hierarki persepsi antarbangsa. K-pop telah menjadi fenomena global, tetapi globalisasi industri hiburan tidak selalu diiringi globalisasi empati. Identitas Digital dan Komunitas Terbayang Dalam perspektif sosiologi komunikasi, fandom adalah “komunitas terbayang” yang melampaui batas negara. Penggemar merasa terhubung oleh selera, emosi, dan idola yang sama. Namun ketika konflik muncul di ruang fisi...

Perjalanan Dinas: Dari Formalitas Menuju Investasi Kebijakan

Perjalanan dinas selalu terdengar prestisius. Ada tiket, agenda resmi, foto dokumentasi, dan laporan kegiatan. Namun setelah mencermati bagaimana aparatur sipil negara di negara maju bekerja, saya mulai bertanya: apakah perjalanan dinas benar-benar menjadi alat perubahan, atau sekadar rutinitas administratif? Di negara seperti Jepang, Singapura, dan Jerman, perjalanan dinas bukanlah hak, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan urgensinya. Setiap kunjungan didahului oleh rumusan masalah yang jelas. Mengapa harus datang? Apa yang ingin dipelajari? Apa dampaknya terhadap kebijakan? Bahkan, jika suatu pertemuan dapat dilakukan secara daring, perjalanan fisik sering kali tidak disetujui. Prinsip value for money bukan sekadar slogan, melainkan budaya kerja. Refleksi ini membawa saya pada kenyataan di Indonesia. Regulasi sebenarnya sudah tersedia. Standar biaya sudah diatur. Prosedur administratif sudah tertib. Namun dalam praktiknya, orientasi kita sering berhenti pada pemenuhan syar...

Memperbaiki kualitas belanja daerah

 Memperbaiki kualitas belanja daerah dengan menyatukan solusi untuk mentalitas birokrat dan intervensi politik memerlukan pendekatan sistemik. Jika keduanya digabungkan, maka strategi utamanya adalah "Menciptakan Sistem yang Memaksa Profesionalisme" . Berikut adalah penggabungan strategi yang bisa dilakukan: 1. Sistem "Pemisah" (Decoupling) Politik dan Birokrasi Agar intervensi politik tidak merusak kualitas belanja, birokrasi harus memiliki benteng pertahanan. Aksi: Mengadopsi sistem Meritokrasi Penuh . Jabatan birokrasi tertinggi di daerah (Sekda dan Kepala Dinas) harus memiliki kontrak kerja tetap yang tidak bisa dicopot hanya karena pergantian kepala daerah (selama target kinerja tercapai). Dampak: Birokrat tidak lagi merasa perlu menjadi "alat politik" untuk mengamankan posisi mereka, sehingga mereka bisa lebih fokus pada efisiensi belanja. 2. Anggaran Berbasis Hasil dengan Konsekuensi Hukum/Jabatan Menggabungkan mentalitas kerja dengan sistem an...

Mengapa di Indonesia Terasa Gagal?

 Rasanya memang semua "istilah keren" tadi sudah ada di Indonesia: kita punya e-Budgeting , kita punya TPAD , kita punya SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah), dan audit BPK ada di mana-mana. Tapi hasilnya? Seringkali hanya berakhir jadi formalitas administratif . Di negara maju, sistem tersebut bekerja karena ada "nyawa"-nya. Di Indonesia, kita sering terjebak dalam apa yang disebut sebagai Isomorphic Mimicry —terlihat seperti organisasi modern dari luar, tapi fungsinya tetap tradisional di dalam. Berikut adalah alasan jujur mengapa sistem yang "sudah dilakukan" itu terasa gagal, dan apa yang membedakannya dengan Selandia Baru atau Swedia: 1. Masalah "Administrasi vs Substansi" Di Indonesia, pejabat seringkali lebih takut salah SPJ (kuitansi) daripada gagal mencapai target . Di Swedia: Jika target kesejahteraan tidak tercapai, publik marah. Di Indonesia: Yang penting laporannya "Wajar Tanpa Pengecualian" (WTP). P...