Memperbaiki kualitas belanja daerah dengan menyatukan solusi untuk mentalitas birokrat dan intervensi politik memerlukan pendekatan sistemik. Jika keduanya digabungkan, maka strategi utamanya adalah "Menciptakan Sistem yang Memaksa Profesionalisme" . Berikut adalah penggabungan strategi yang bisa dilakukan: 1. Sistem "Pemisah" (Decoupling) Politik dan Birokrasi Agar intervensi politik tidak merusak kualitas belanja, birokrasi harus memiliki benteng pertahanan. Aksi: Mengadopsi sistem Meritokrasi Penuh . Jabatan birokrasi tertinggi di daerah (Sekda dan Kepala Dinas) harus memiliki kontrak kerja tetap yang tidak bisa dicopot hanya karena pergantian kepala daerah (selama target kinerja tercapai). Dampak: Birokrat tidak lagi merasa perlu menjadi "alat politik" untuk mengamankan posisi mereka, sehingga mereka bisa lebih fokus pada efisiensi belanja. 2. Anggaran Berbasis Hasil dengan Konsekuensi Hukum/Jabatan Menggabungkan mentalitas kerja dengan sistem an...
Rasanya memang semua "istilah keren" tadi sudah ada di Indonesia: kita punya e-Budgeting , kita punya TPAD , kita punya SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah), dan audit BPK ada di mana-mana. Tapi hasilnya? Seringkali hanya berakhir jadi formalitas administratif . Di negara maju, sistem tersebut bekerja karena ada "nyawa"-nya. Di Indonesia, kita sering terjebak dalam apa yang disebut sebagai Isomorphic Mimicry —terlihat seperti organisasi modern dari luar, tapi fungsinya tetap tradisional di dalam. Berikut adalah alasan jujur mengapa sistem yang "sudah dilakukan" itu terasa gagal, dan apa yang membedakannya dengan Selandia Baru atau Swedia: 1. Masalah "Administrasi vs Substansi" Di Indonesia, pejabat seringkali lebih takut salah SPJ (kuitansi) daripada gagal mencapai target . Di Swedia: Jika target kesejahteraan tidak tercapai, publik marah. Di Indonesia: Yang penting laporannya "Wajar Tanpa Pengecualian" (WTP). P...