Palembang, 1955. Di sebuah rumah limas yang megah, Siti Fatimah—atau yang akrab dipanggil Fatim —menatap kosong ke luar jendela. Sebagai putri seorang bangsawan Palembang bergelar Kemas , kecantikannya adalah buah bibir di sepanjang Sungai Musi. Kulitnya seputih langsat, matanya indah dinaungi bulu mata lentik. Namun, senyumnya telah lama hilang. Ayahnya telah memutuskan. Fatim dijodohkan dengan seorang pria mapan yang bekerja di Permina (cikal bakal Pertamina). Pria itu kaya, terpandang, namun bagi Fatim, hatinya hampa. Menolak secara terang-terangan adalah hal mustahil dalam tatanan adat yang kaku. Suatu malam, dengan bantuan bibinya—satu-satunya orang dewasa yang memahami jeritan hatinya—Fatim nekat melarikan diri. Mereka menumpang kapal uap, membelah ombak menuju Batavia (Jakarta), mencari secercah kebebasan. Pertemuan di Tanah Rantau Jakarta adalah dunia baru yang bising bagi Fatim. Untuk menenangkan jiwanya yang gelisah, suatu sore ia berjalan-jalan di dekat sebuah masjid t...
Ruang Digital, Tanggung Jawab Publik, dan Perlindungan Anak Di era media sosial, sebuah pernyataan yang pernah diucapkan bertahun-tahun lalu dapat kembali muncul dan menyebar dalam hitungan jam. Fenomena ini kembali terlihat ketika pengakuan lama dari Mimi Peri dalam percakapannya dengan Nikita Mirzani viral di berbagai platform digital. Percakapan tersebut memicu perdebatan publik karena menyentuh isu sensitif terkait hubungan sosial, kesehatan, dan persepsi masyarakat tentang penyakit menular seperti HIV/AIDS . Viralnya kembali pernyataan lama ini memperlihatkan satu hal yang semakin nyata di zaman digital: ruang publik tidak lagi terbatas pada panggung atau media massa tradisional. Media sosial telah menjadi arena percakapan global yang memungkinkan siapa pun menyampaikan pendapatnya kepada jutaan orang sekaligus. Dalam situasi seperti ini, setiap ucapan—terlebih dari figur publik—memiliki potensi dampak yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan. Masalahnya bukan sek...