Di bawah langit senja bhumi Mataram Kuno, bayang-bayang kemegahan Samaratungga mulai pudar oleh keserakahan manusia. Borobudur berdiri agung sebagai mercusuar darma, namun di sekelilingnya, manusia justru memilih jalan kegelapan. Konsep Sukhaduhkha telah dilupakan, berganti dengan derita yang diciptakan oleh tangan mereka sendiri. Di balai-balai desa, para nayaka dan penarik pajak tidak lagi jujur. Mereka memanipulasi kitab pembukuan tanah, memeras para petani miskin melebihi titah raja, lalu menimbun pundi-pundi emas di bawah lantai rumah mereka sendiri. Korupsi merajalela dari tingkat pejabat hingga pedagang pasar. Di jalur-jalur dagang yang membelah hutan, jeritan ketakutan kerap memecah malam. Komplotan bandit merampok kereta dagang, menyita harta, dan tak jarang meninggalkan korban jiwa. Fajar sering kali membawa kabar duka. Penemuan mayat tanpa identitas di tepian sungai membuat warga desa saling tuduh demi menghindari denda wankai kabunan dari kerajaan. Di balik bilik-bilik b...
Palembang, 1955. Di sebuah rumah limas yang megah, Siti Fatimah—atau yang akrab dipanggil Fatim —menatap kosong ke luar jendela. Sebagai putri seorang bangsawan Palembang bergelar Kemas , kecantikannya adalah buah bibir di sepanjang Sungai Musi. Kulitnya seputih langsat, matanya indah dinaungi bulu mata lentik. Namun, senyumnya telah lama hilang. Ayahnya telah memutuskan. Fatim dijodohkan dengan seorang pria mapan yang bekerja di Permina (cikal bakal Pertamina). Pria itu kaya, terpandang, namun bagi Fatim, hatinya hampa. Menolak secara terang-terangan adalah hal mustahil dalam tatanan adat yang kaku. Suatu malam, dengan bantuan bibinya—satu-satunya orang dewasa yang memahami jeritan hatinya—Fatim nekat melarikan diri. Mereka menumpang kapal uap, membelah ombak menuju Batavia (Jakarta), mencari secercah kebebasan. Pertemuan di Tanah Rantau Jakarta adalah dunia baru yang bising bagi Fatim. Untuk menenangkan jiwanya yang gelisah, suatu sore ia berjalan-jalan di dekat sebuah masjid t...