Di ujung kebun yang berbatasan dengan rumpun bambu tua, berdiri pohon asem yang usianya lebih tua dari rumah-rumah di sekitarnya. Batangnya menghitam, retak-retak seperti kulit yang terlalu lama terbakar matahari. Akar-akar besarnya menyembul dari tanah, melilit dan merayap seperti ular raksasa yang sedang tidur—atau mungkin sedang menunggu. Warga menyebutnya Asem Buyut. Saat senja turun, kebun itu berubah. Sunyi menjadi pekat. Angin tidak lagi sekadar berembus—ia seperti membelai daun-daun dengan bisikan lirih, seolah menyampaikan pesan yang tak ingin didengar manusia. Pak Raharjo berdiri di hadapan pohon itu dengan dada membusung. “Besok kita tebang,” katanya datar. Pak Wiryo, mertuanya, menatap batang pohon itu lama sekali. Matanya keruh, seperti menyimpan ingatan yang tak ingin dihidupkan kembali. “Pohon itu bukan cuma kayu,” bisiknya. “Ia penjaga.” Raharjo tersenyum tipis. “Penjaga apa? Ini tanah saya.” Malam itu, udara di sekitar kebun terasa berbeda. Lembap. Berat. Seperti ...
Insiden konser DAY6 di Axiata Arena pada 31 Januari 2026 sejatinya perkara sederhana: dugaan pelanggaran aturan dengan membawa kamera profesional ke dalam venue. Namun di era media sosial, perkara teknis bisa menjelma menjadi pertarungan harga diri kolektif. Apa yang bermula dari teguran di arena konser berubah menjadi konflik regional antara netizen Korea Selatan (Knetz) dan Asia Tenggara (SEAblings), lengkap dengan tudingan rasisme, stereotip ekonomi, hingga saling sindir lintas bahasa di platform X. Peristiwa ini memperlihatkan satu hal penting: globalisasi budaya tidak otomatis menghapus hierarki persepsi antarbangsa. K-pop telah menjadi fenomena global, tetapi globalisasi industri hiburan tidak selalu diiringi globalisasi empati. Identitas Digital dan Komunitas Terbayang Dalam perspektif sosiologi komunikasi, fandom adalah “komunitas terbayang” yang melampaui batas negara. Penggemar merasa terhubung oleh selera, emosi, dan idola yang sama. Namun ketika konflik muncul di ruang fisi...