Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam, namun ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu dingin. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tipis diletakkan oleh tangan yang gemetar. “Ini uang belanja bulan ini, Mas. Jumlahnya senggaja aku samakan dengan bulan lalu,” ucap Sarah dengan suara sepelan mungkin. Ia berusaha menjaga agar tidak ada nada pamer atau merendahkan di dalamnya. Rendra, suaminya, menatap amplop itu tanpa minat. Sejak perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan setahun lalu, Rendra hanya mengandalkan pendapatan dari toko online kecilnya yang sepi. Di saat yang sama, karier Sarah sebagai manajer pemasaran justru melesat tajam. Gaji Sarah kini empat kali lipat dari sisa tabungan Rendra. Rendra menghela napas panjang, mendorong amplop itu kembali ke tengah meja. “Simpan saja, Rah. Kamu kan punya uang banyak sekarang. Kamu bisa beli apa saja tanpa perlu menunggu uang dari toko online-ku yang tidak seberapa ini.” “Tapi ini kewajibanmu, M...
Di bawah langit senja bhumi Mataram Kuno, bayang-bayang kemegahan Samaratungga mulai pudar oleh keserakahan manusia. Borobudur berdiri agung sebagai mercusuar darma, namun di sekelilingnya, manusia justru memilih jalan kegelapan. Konsep Sukhaduhkha telah dilupakan, berganti dengan derita yang diciptakan oleh tangan mereka sendiri. Di balai-balai desa, para nayaka dan penarik pajak tidak lagi jujur. Mereka memanipulasi kitab pembukuan tanah, memeras para petani miskin melebihi titah raja, lalu menimbun pundi-pundi emas di bawah lantai rumah mereka sendiri. Korupsi merajalela dari tingkat pejabat hingga pedagang pasar. Di jalur-jalur dagang yang membelah hutan, jeritan ketakutan kerap memecah malam. Komplotan bandit merampok kereta dagang, menyita harta, dan tak jarang meninggalkan korban jiwa. Fajar sering kali membawa kabar duka. Penemuan mayat tanpa identitas di tepian sungai membuat warga desa saling tuduh demi menghindari denda wankai kabunan dari kerajaan. Di balik bilik-bilik b...