Insiden konser DAY6 di Axiata Arena pada 31 Januari 2026 sejatinya perkara sederhana: dugaan pelanggaran aturan dengan membawa kamera profesional ke dalam venue. Namun di era media sosial, perkara teknis bisa menjelma menjadi pertarungan harga diri kolektif. Apa yang bermula dari teguran di arena konser berubah menjadi konflik regional antara netizen Korea Selatan (Knetz) dan Asia Tenggara (SEAblings), lengkap dengan tudingan rasisme, stereotip ekonomi, hingga saling sindir lintas bahasa di platform X. Peristiwa ini memperlihatkan satu hal penting: globalisasi budaya tidak otomatis menghapus hierarki persepsi antarbangsa. K-pop telah menjadi fenomena global, tetapi globalisasi industri hiburan tidak selalu diiringi globalisasi empati. Identitas Digital dan Komunitas Terbayang Dalam perspektif sosiologi komunikasi, fandom adalah “komunitas terbayang” yang melampaui batas negara. Penggemar merasa terhubung oleh selera, emosi, dan idola yang sama. Namun ketika konflik muncul di ruang fisi...
Perjalanan dinas selalu terdengar prestisius. Ada tiket, agenda resmi, foto dokumentasi, dan laporan kegiatan. Namun setelah mencermati bagaimana aparatur sipil negara di negara maju bekerja, saya mulai bertanya: apakah perjalanan dinas benar-benar menjadi alat perubahan, atau sekadar rutinitas administratif? Di negara seperti Jepang, Singapura, dan Jerman, perjalanan dinas bukanlah hak, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan urgensinya. Setiap kunjungan didahului oleh rumusan masalah yang jelas. Mengapa harus datang? Apa yang ingin dipelajari? Apa dampaknya terhadap kebijakan? Bahkan, jika suatu pertemuan dapat dilakukan secara daring, perjalanan fisik sering kali tidak disetujui. Prinsip value for money bukan sekadar slogan, melainkan budaya kerja. Refleksi ini membawa saya pada kenyataan di Indonesia. Regulasi sebenarnya sudah tersedia. Standar biaya sudah diatur. Prosedur administratif sudah tertib. Namun dalam praktiknya, orientasi kita sering berhenti pada pemenuhan syar...