Langsung ke konten utama

Mengapa di Indonesia Terasa Gagal?

 Rasanya memang semua "istilah keren" tadi sudah ada di Indonesia: kita punya e-Budgeting, kita punya TPAD, kita punya SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah), dan audit BPK ada di mana-mana. Tapi hasilnya? Seringkali hanya berakhir jadi formalitas administratif.

Di negara maju, sistem tersebut bekerja karena ada "nyawa"-nya. Di Indonesia, kita sering terjebak dalam apa yang disebut sebagai Isomorphic Mimicry—terlihat seperti organisasi modern dari luar, tapi fungsinya tetap tradisional di dalam.

Berikut adalah alasan jujur mengapa sistem yang "sudah dilakukan" itu terasa gagal, dan apa yang membedakannya dengan Selandia Baru atau Swedia:

1. Masalah "Administrasi vs Substansi"

Di Indonesia, pejabat seringkali lebih takut salah SPJ (kuitansi) daripada gagal mencapai target.

  • Di Swedia: Jika target kesejahteraan tidak tercapai, publik marah.

  • Di Indonesia: Yang penting laporannya "Wajar Tanpa Pengecualian" (WTP). Padahal, daerah bisa dapat predikat WTP tapi angka kemiskinannya tetap tinggi. Kualitas belanja terkunci pada kepatuhan aturan, bukan keberhasilan program.

2. Belanja Pegawai yang "Gemuk"

Negara maju sangat efisien dalam struktur organisasi. Di banyak daerah di Indonesia, porsi APBD masih habis untuk gaji pegawai, honor panitia, dan perjalanan dinas (bisa mencapai 40-60%). Akibatnya, uang yang benar-benar sampai ke rakyat (belanja modal) hanya tinggal sisanya saja.

3. Politik "Balas Budi"

Di Selandia Baru, penentuan proyek didasarkan pada data teknokratis. Di kita, perencanaan anggaran seringkali terintervensi oleh kepentingan politik (titipan proyek) agar anggaran cepat ketok palu di DPRD. Ini yang membuat belanja daerah tidak sinkron dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Apa yang Harus Diubah agar Tidak Gagal Lagi?

Jika sistemnya sudah ada tapi gagal, yang perlu diperbaiki bukan lagi aplikasinya, tapi konsekuensinya:

  • Penerapan Reward & Punishment yang Nyata: Di negara maju, kegagalan mencapai target kinerja berarti anggaran tahun depan dipotong atau pejabatnya diganti. Di kita, seringkali tidak ada konsekuensi serius bagi daerah yang belanjanya buruk.

  • Radikalisasi Transparansi: Jangan hanya berhenti di portal data yang sulit dibaca. Indonesia perlu meniru Swedia dalam hal perlindungan whistleblower dan keterlibatan komunitas lokal untuk mengaudit proyek secara langsung di lapangan.

  • Penyederhanaan Aturan: Terlalu banyak aturan yang tumpang tindih membuat birokrat kita "takut berinovasi". Akhirnya mereka memilih belanja yang "aman-aman saja" (seperti sosialisasi atau rapat) daripada proyek inovatif yang berisiko secara administratif.

Intinya: Kita sudah punya "mobil"-nya (sistemnya), tapi "supir"-nya (SDM & Politik) masih sering membawa mobil itu berputar-putar di tempat yang sama, dan "bahan bakar"-nya (anggaran) banyak bocor di jalan.

Menurut Anda, dari lingkaran setan ini, mana yang paling mendesak untuk diputus duluan: mentalitas birokratnya, intervensi politiknya, atau sistem pengawasannya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ETIKA ADMINISTRASI PUBLIK (DEFINISI, URGENSI, PERKEMBANGAN, DAN LANDASAN)

TUGAS TERSTRUKTUR ETIKA ADMINISTRASI PUBLIK (DEFINISI, URGENSI, PERKEMBANGAN, DAN LANDASAN) Disusun Oleh : KELOMPOK 1 Susanto P2FB12017 Regas Febria Yuspita P2FB12004 Rahmat Imanda P2FB12021 Ary Yuliastri P2FB12008 UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PURWOKERTO 2012 Etika Administrasi Publik (Definisi, Urgensi, Perkembangan, dan Landasan) Oleh : Kelompok 1 Pendahuluan Etika administrasi publik pertama kali muncul pada masa klasik. Hal ini disebabkan karena teori administrasi publik klasik (Wilson, Weber, Gulick, dan Urwick) kurang memberi tempat pada pilihan moral (etika). Pada teori klasik kebutuhan moral administrator hanyalah merupakan keharusan untuk menjalankan tugas sehari-hari secara efisien. Dengan diskresi yang dimiliki, administrator publik pun tidak hanya harus efisien, tapi juga harus d...

Bagaimana Cara Melembuhkan Hati

Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh. Saudara-saudaraku seakidah : Sesungguhnya kelembutan, kekhusyu’an serta keluluhan hati kepada Sang Pencipta dan Yang membentuk hati-hati tersebut merupakan suatu pemberian dari Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) dan sebuah karunia dari Ad-Dayyan (Yang membuat perhitungan) yang patut mendapatkan maaf dan ampunan-Nya. Menjadi tempat perlindungan yang kokoh dan benteng yang tidak dapat ditembus dari kesesatan dan kemaksiatan. Tidaklah hati yang lembut kepada Allah Azza wa Jalla melainkan pemiliknya (adalah) seorang yang bersegara mengejar segala bentuk kebajikan dan sigap terhadap segala bentuk keta’atan dan keridhaan. Tiada kelembutan dan keluluhan hati kepada Allah Azza wa Jalla melainkan anda akan mendapati pemiliknya sebagai orang yang paling menaruh perhatian penuh terhadap segala bentuk ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Tiadalah ia diingatkan melainkan sege...

Simak Doa Yang Sangat Indah dan Menyejukkan Hati Ini

♥ Ya Allah berilah aku kesabaran di saat tak ada solusi bagi seluruh masalah dan tantangan hidupku kecuali hanya kesabaran. ♥ Ya Allah teguhkanlah aku dengan kalimat peneguh dariMu dal am kehidupan dunia maupun di akhirat kelak. ♥ Ya Allah penuhilah hatiku dengan keyakinan di saat semua manusia meremehkan agamaMu dan meragukan janji-janjiMu. ♥ Ya Allah berilah aku keberanian di saat ketakutan pada musuh-musuhMu dan kepengecutan melanda hati manusia. ♥ Ya Allah berikan aku tekad dan kekuatan untuk tetap berada di jalan kebenaran dan ilhamilah aku melakukan semua kebaikan yang Engkau sukai. ♥ Ya Allah berikanlah aku bagian dari seluruh kabaikan yang diminta dan Engkau berikan kpd Nabi-Mu dan hamba-nabiMu yang saleh. ♥ Ya Allah turunkanlah ketenangan dan ketegaran dalam hatiku pada setiap cobaan dan goncangan yang merintangi jalan perjuanganku. ♥ Ya Allah bersihkan hatiku dari segala bentuk kemunafikan, riya, keangkuhan, penuhilah hatiku dengna keikhlasan, kejujuran ...