Di bawah langit senja bhumi Mataram Kuno, bayang-bayang kemegahan Samaratungga mulai pudar oleh keserakahan manusia. Borobudur berdiri agung sebagai mercusuar darma, namun di sekelilingnya, manusia justru memilih jalan kegelapan. Konsep Sukhaduhkha telah dilupakan, berganti dengan derita yang diciptakan oleh tangan mereka sendiri.
Di balai-balai desa, para nayaka dan penarik pajak tidak lagi jujur. Mereka memanipulasi kitab pembukuan tanah, memeras para petani miskin melebihi titah raja, lalu menimbun pundi-pundi emas di bawah lantai rumah mereka sendiri. Korupsi merajalela dari tingkat pejabat hingga pedagang pasar. Di jalur-jalur dagang yang membelah hutan, jeritan ketakutan kerap memecah malam. Komplotan bandit merampok kereta dagang, menyita harta, dan tak jarang meninggalkan korban jiwa.
Fajar sering kali membawa kabar duka. Penemuan mayat tanpa identitas di tepian sungai membuat warga desa saling tuduh demi menghindari denda wankai kabunan dari kerajaan. Di balik bilik-bilik bambu, perzinaan dan pelecehan merusak kehormatan keluarga. Moral runtuh; pencurian ternak merata, dan batas suci tanah Sima dilanggar demi memuaskan ketamakan pribadi. Jagat Mataram telah dipenuhi oleh dosa yang pekat.
Hingga tibalah tahun 1006 Masehi. Bumi tiba-tiba berguncang hebat, seolah-olah tak lagi sanggup menahan beban dosa manusia di atasnya. Gunung Merapi, sang penguasa langit Jawa, terbangun dalam murka yang tiada tara.
Malam itu, langit berubah menjadi merah darah. Gemuruh mengerikan menggelegar, meruntuhkan nyali siapapun yang mendengarnya. Dari puncak Merapi, badai awan panas memelesat secepat kilat, membawa jutaan ton abu vulkanik, batu, dan lumpur cair. Manusia berlarian saling menginjak, melupakan harta korupsi dan emas hasil curian mereka. Namun, alam tidak memberi ampun. Letusan dahsyat itu mengubur seluruh peradaban Mataram Kuno dalam sekejap.
Borobudur, sang candi suci, perlahan-lahan hilang dari pandangan. Tubuhnya yang megah diselimuti abu tebal, lalu perlahan tertimbun tanah berpuluh-puluh meter. Selama ratusan tahun berikutnya, benih-benih liar tumbuh di atasnya. Tempat suci itu bertransformasi menjadi sebuah bukit hutan lebat yang angker, dilupakan oleh zaman, dan hanya menyisakan mitos samar tentang "Bukit Borobudur".
Waktu bergulir hingga delapan abad kemudian. Pada tahun 1814, saat Inggris mencengkeram tanah Jawa, seorang Letnan Gubernur bernama Sir Thomas Stamford Raffles mendengar selentingan kisah dari penduduk lokal. Mereka berbicara tentang adanya monumen raksasa yang tersembunyi di balik hutan lebat di daerah Kedu.
Penasaran oleh misteri tersebut, Raffles mengutus seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk menyelidikinya. Cornelius membawa ratusan pekerja. Selama berbulan-bulan, mereka menebas pohon-pohon besar, membakar semak belukar, dan menggali berton-ton tanah purba yang telah mengeras.
Perlahan tapi pasti, keajaiban itu muncul kembali. Dari balik kegelapan tanah, ukiran relief-relief Buddha yang indah kembali menatap dunia. Stupa-stupa yang sempat terpenjara oleh abu Merapi akhirnya kembali menyapa sinar matahari. Borobudur telah bangkit dari kubur panjangnya, menjadi saksi bisu sebuah peradaban yang runtuh karena dosa, namun menyisakan keagungan yang tak mampu dihancurkan oleh waktu.
Komentar
Posting Komentar