Di bawah langit senja bhumi Mataram Kuno, bayang-bayang kemegahan Samaratungga mulai pudar oleh keserakahan manusia. Borobudur berdiri agung sebagai mercusuar darma, namun di sekelilingnya, manusia justru memilih jalan kegelapan. Konsep Sukhaduhkha telah dilupakan, berganti dengan derita yang diciptakan oleh tangan mereka sendiri. Di balai-balai desa, para nayaka dan penarik pajak tidak lagi jujur. Mereka memanipulasi kitab pembukuan tanah, memeras para petani miskin melebihi titah raja, lalu menimbun pundi-pundi emas di bawah lantai rumah mereka sendiri. Korupsi merajalela dari tingkat pejabat hingga pedagang pasar. Di jalur-jalur dagang yang membelah hutan, jeritan ketakutan kerap memecah malam. Komplotan bandit merampok kereta dagang, menyita harta, dan tak jarang meninggalkan korban jiwa. Fajar sering kali membawa kabar duka. Penemuan mayat tanpa identitas di tepian sungai membuat warga desa saling tuduh demi menghindari denda wankai kabunan dari kerajaan. Di balik bilik-bilik b...
Hidup dengan Iman dan Hati. InsyaAlloh