Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam, namun ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu dingin. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tipis diletakkan oleh tangan yang gemetar. “Ini uang belanja bulan ini, Mas. Jumlahnya senggaja aku samakan dengan bulan lalu,” ucap Sarah dengan suara sepelan mungkin. Ia berusaha menjaga agar tidak ada nada pamer atau merendahkan di dalamnya. Rendra, suaminya, menatap amplop itu tanpa minat. Sejak perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan setahun lalu, Rendra hanya mengandalkan pendapatan dari toko online kecilnya yang sepi. Di saat yang sama, karier Sarah sebagai manajer pemasaran justru melesat tajam. Gaji Sarah kini empat kali lipat dari sisa tabungan Rendra. Rendra menghela napas panjang, mendorong amplop itu kembali ke tengah meja. “Simpan saja, Rah. Kamu kan punya uang banyak sekarang. Kamu bisa beli apa saja tanpa perlu menunggu uang dari toko online-ku yang tidak seberapa ini.” “Tapi ini kewajibanmu, M...
Hidup dengan Iman dan Hati. InsyaAlloh