Palembang, 1955. Di sebuah rumah limas yang megah, Siti Fatimah—atau yang akrab dipanggil Fatim—menatap kosong ke luar jendela. Sebagai putri seorang bangsawan Palembang bergelar Kemas, kecantikannya adalah buah bibir di sepanjang Sungai Musi. Kulitnya seputih langsat, matanya indah dinaungi bulu mata lentik. Namun, senyumnya telah lama hilang.
Ayahnya telah memutuskan. Fatim dijodohkan dengan seorang pria mapan yang bekerja di Permina (cikal bakal Pertamina). Pria itu kaya, terpandang, namun bagi Fatim, hatinya hampa. Menolak secara terang-terangan adalah hal mustahil dalam tatanan adat yang kaku.
Suatu malam, dengan bantuan bibinya—satu-satunya orang dewasa yang memahami jeritan hatinya—Fatim nekat melarikan diri. Mereka menumpang kapal uap, membelah ombak menuju Batavia (Jakarta), mencari secercah kebebasan.
Pertemuan di Tanah Rantau
Jakarta adalah dunia baru yang bising bagi Fatim. Untuk menenangkan jiwanya yang gelisah, suatu sore ia berjalan-jalan di dekat sebuah masjid tua. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan belahan jiwa.
Dari balik jendela masjid, terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang begitu merdu dan menggetarkan dada. Fatim terpaku. Ia melihat seorang pemuda Jawa mengenakan sarung dan peci, sedang mengaji dengan khusyuk. Pemuda itu adalah Raden Mas Danang, seorang santri cerdas lulusan Pondok Modern Gontor yang sedang melanjutkan syiar di Jakarta.
Ketika Danang menyudahi ngajinya dan menoleh ke arah jendela, pandangan mereka beradu.
Bagi Danang, Fatim adalah bidadari yang turun dari khayangan; begitu menawan dan anggun. Bagi Fatim, keteduhan di mata Danang adalah rumah yang selama ini ia cari. Itu adalah cinta pada pandangan pertama yang begitu magis, murni, dan mendalam.
Badai yang Menghadang
Kebahagiaan mereka seketika runtuh ketika kabar pelarian Fatim dan hubungannya dengan Danang sampai ke telinga keluarga di Palembang. Murka adalah kata yang terlalu lembut untuk menggambarkan kemarahan sang ayah. Danang pun, yang berasal dari trah bangsawan Jawa, menghadapi tentangan serupa dari keluarganya yang menganggap adat mereka terlalu berbeda.
Fatim dipaksa pulang ke Palembang dengan pengawalan ketat. Sesampainya di rumah limas, ia langsung dikurung di sebuah kamar pengap.
"Jika kau tetap bersikeras menikah dengan pemuda Jawa itu, kau akan dibuang dari keluarga ini!" bentak ayahnya di depan pintu kamar yang terkunci. "Dan mahkota kebanggaanmu, Aesan Paksangkong (pakaian adat kebesaran pengantin Palembang) warisan leluhurmu, akan kularung ke Sungai Musi! Kau harus menikah dengan pilihan ayah!"
Fatim hanya bisa menangis, memeluk lututnya dalam kegelapan.
Pengorbanan Sang Kekasih
Mendengar belahan jiwanya disekap dan dipaksa menikah, Danang tidak tinggal diam. Dengan keberanian yang membakar dada, ia berlayar mengarungi Laut Jawa menuju Palembang. Bermodalkan nekat, ia mendatangi rumah limas keluarga Fatim untuk meminang sang kekasih secara ksatria.
Namun, bukan sambutan hangat yang ia terima. Ayah Fatim yang gelap mata memerintahkan para centengnya untuk menyeret Danang. Di halaman rumah, di bawah rintik hujan, Danang dicambuk dan dipukuli hingga babak belur. Darah mengalir dari pelipisnya, namun bibirnya tetap merapalkan doa dan nama Fatim. Dari balik jendela kamarnya yang tinggi, Fatim menjerit histeris melihat penderitaan kekasihnya.
Malam itu, Danang dibuang di tepi jalan dalam kondisi tak berdaya. Tapi cinta memberinya kekuatan luar biasa. Tengah malam, dengan sisa-sisa tenaganya, Danang merayap kembali ke rumah limas. Dengan bantuan bibi Fatim yang diam-diam masih mendukung mereka, Danang berhasil membuka paksa jendela kamar Fatim.
"Fatim... ayo pergi bersamaku," bisik Danang lemah, namun tatapannya penuh tekad.
"Mas Danang... tubuhmu terluka parah," isak Fatim memeluknya.
"Luka ini tak ada artinya dibanding kehilanganmu. Mari kita bangun hidup baru di Jawa."
Malam itu juga, di bawah naungan langit gelap Palembang, sepasang kekasih itu melarikan diri. Mereka berlari menuju pelabuhan dan menumpang kapal barang yang membawa mereka berlayar menjauh dari tanah Sumatra.
Karma dan Kehilangan
Keesokan paginya, gemparlah seluruh isi rumah limas. Sang ayah murka tak terkira. Sesuai ancamannya, sebuah ritual keluarga digelar di tepi Sungai Musi.
Dengan air mata ibunya yang tertahan dan amarah ayahnya yang meluap, satu set busana megah Aesan Paksangkong bertahtakan emas dilemparkan ke tengah sungai yang dalam. Arus Musi menyeretnya perlahan ke dasar.
Bagi keluarga tersebut, Fatim telah mati. Namanya dicoret dari silsilah keluarga besar.
Pulang Setelah Puluhan Tahun
Waktu berlalu melintasi zaman. Fatim dan Danang hidup bahagia di sebuah desa tenang di pelosok Jawa, dikaruniai anak dan cucu yang berbakti. Cinta mereka abadi, meski harus dibayar dengan keterasingan.
Puluhan tahun kemudian, di awal abad ke-21, Fatim yang kini telah menjadi seorang nenek berambut putih, memutuskan untuk pulang ke Palembang. Danang telah tiada, dan kerinduannya pada tanah kelahiran tak lagi bisa dibendung.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong kota Palembang yang telah banyak berubah. Ia mencoba mencari sanak saudaranya. Namun, tak ada satu pun orang yang mengenalnya. Rumah limas megah tempatnya tumbuh dulu pun telah berganti menjadi bangunan beton yang dingin.
Sampai akhirnya, ia berhasil melacak keberadaan salah seorang kerabat jauh yang masih hidup, seorang kakek tua yang sedang duduk di beranda rumahnya.
"Aku Siti Fatimah, putri dari Kemas..." kata Fatim dengan suara bergetar.
Kakek tua itu menatap Fatim lama, mencari-cari memori di masa mudanya. Kemudian, ia menghela napas panjang dan menggelengkan kepala dengan sedih.
"Maafkan aku, Nek. Nama Siti Fatimah memang pernah ada. Namun dalam ingatan keluarga ini dan dalam catatan silsilah resmi yang kami pegang, nama itu telah dihapus puluhan tahun lalu. Bagai Aesan Paksangkong yang dilarung ke laut, keberadaanmu di keluarga ini sudah dianggap tiada."
Fatim terpaku. Air matanya menetes perlahan. Ia menyadari bahwa harga dari sebuah cinta sejatinya adalah kehilangan asal-usulnya. Namun, saat ia meraba dadanya, ia tersenyum tipis. Cinta tulus dari seorang santri Jawa bernama Danang yang telah menemaninya seumur hidup, jauh lebih berharga dari sekadar nama di selembar kertas silsilah.
(terinspirasi dari kisah cinta kedua mbahkku tercinta)

Komentar
Posting Komentar