Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam, namun ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu dingin. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tipis diletakkan oleh tangan yang gemetar.
“Ini uang belanja bulan ini, Mas. Jumlahnya senggaja aku samakan dengan bulan lalu,” ucap Sarah dengan suara sepelan mungkin. Ia berusaha menjaga agar tidak ada nada pamer atau merendahkan di dalamnya.
Rendra, suaminya, menatap amplop itu tanpa minat. Sejak perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan setahun lalu, Rendra hanya mengandalkan pendapatan dari toko online kecilnya yang sepi. Di saat yang sama, karier Sarah sebagai manajer pemasaran justru melesat tajam. Gaji Sarah kini empat kali lipat dari sisa tabungan Rendra.
Rendra menghela napas panjang, mendorong amplop itu kembali ke tengah meja. “Simpan saja, Rah. Kamu kan punya uang banyak sekarang. Kamu bisa beli apa saja tanpa perlu menunggu uang dari toko online-ku yang tidak seberapa ini.”
“Tapi ini kewajibanmu, Mas. Aku bekerja bukan untuk menggantikan posisimu,” bantah Sarah lembut.
Rendra berdiri, memunggungi istrinya. “Untuk apa aku memberi makan orang yang dompetnya jauh lebih tebal dari milikku? Itu membuang-buang uang. Gunakan saja uangmu sendiri.”
Kata-kata itu menyengat hati Sarah. Bukan karena ia takut kekurangan uang—ia punya lebih dari cukup—tetapi karena ia menyadari suaminya sedang melarikan diri dari tanggung jawab demi menyelamatkan egonya yang terluka. Sejak hari itu, Rendra benar-benar berhenti memberi nafkah. Ia mendedikasikan seluruh uangnya untuk modal toko online, sementara Sarah membiayai seluruh kebutuhan rumah, listrik, hingga cicilan rumah.
Dua bulan berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Hingga suatu malam, Sarah pulang membawa sebuah kotak kayu ukiran jepara yang tampak usang. Ia meletakkannya di hadapan Rendra yang sedang sibuk menyortir barang dagangan di lantai.
“Apa ini?” tanya Rendra dingin.
“Mahar kita, Mas. Masih ingat?” Sarah membuka kotak itu. Di dalamnya ada seperangkat alat salat dan sebuah mushaf Al-Qur'an kecil yang mulai menguning di bagian tepinya.
Sarah mengambil mushaf tersebut, lalu membukanya pada halaman yang sudah diberi pembatas pita merah. Ia menyerahkannya kepada Rendra. “Tolong bacakan untukku, Mas. Aku merindukan suaramu mengaji.”
Rendra sempat ragu, namun tatapan Sarah yang tulus melunakkan hatinya. Ia menerima mushaf itu dan mulai membaca ayat yang ditunjuk:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisa: 34).
Suara Rendra tercekat di akhir ayat.
“Mas,” panggil Sarah, air matanya mulai menggenang. “Aku bekerja karena aku menyukai duniaku, dan uang yang kudapatkan adalah milikku, hak mutlak yang Allah berikan untukku. Tapi tahukah kamu apa yang paling kubutuhkan?”
Rendra diam, matanya terpaku pada lembaran suci di tangannya.
“Aku butuh perlindungan spiritual dan mental dari seorang suami. Ketika kamu berhenti menafkahiku hanya karena aku punya uang, kamu sedang menggugurkan perlindungan itu. Kamu membiarkan egomu mengalahkan ketakutanmu pada hisab di akhirat nanti. Aku tidak butuh nominal besarmu, Mas. Aku butuh ketegasanmu bahwa kamu adalah pemimpinku yang bertanggung jawab.”
Sarah mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang tampak lusuh dari sakunya. Ia meletakkannya di atas mushaf.
“Uang lima puluh ribu yang kamu berikan dengan keringatmu untuk membelikanku beras, nilainya jauh lebih mulia di mata Allah dan di mataku, daripada jutaan rupiah yang kuhasilkan sendiri dari ruang AC kantorku. Jangan biarkan egomu membakar amalmu di akhirat, Mas.”
Kata-kata Sarah malam itu runtuh bagai martil yang menghancurkan dinding keangkuhan Rendra. Malam itu, setelah Sarah tertidur, Rendra bersujud lama di atas sajadahnya. Ia menangis, menyadari bahwa ketidakmampuannya secara finansial telah menjadikannya seorang pengecut yang berlindung di balik kesuksesan istrinya. Ia lupa bahwa nafkah bukan soal kompetisi jumlah uang, melainkan soal kepatuhan pada perintah penciptanya.
Keesokan harinya, sebuah kebiasaan baru dimulai.
Setiap pagi sebelum Sarah berangkat kerja, Rendra menyelipkan selembar uang di dalam dompet Sarah. Kadang lima puluh ribu, kadang hanya dua puluh ribu rupiah—sesuai keuntungan bersih toko online-nya hari itu.
“Ini untuk makan siangmu hari ini, Rah. Maaf baru bisa memberi segini,” ucap Rendra dengan senyum tulus, tanpa ada lagi guratan minder di wajahnya.
Sarah menerima uang itu dengan kedua tangannya, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. “Ini lebih dari cukup, Mas. Terima kasih banyak.”
Ajaibnya, sejak Rendra meluruskan niatnya dan kembali mengambil tongkat tanggung jawabnya, toko online-nya mulai kebanjiran pesanan. Berkah dari uang nafkah yang ia paksakan keluar dari saku sempitnya justru membuka pintu-pintu rezeki yang sebelumnya tertutup rapat.
Rendra akhirnya memahami sebuah kebenaran mutlak: menafkahi istri tidak akan pernah membuat seorang laki-laki menjadi miskin, karena Allah-lah yang menjamin rezeki setiap suami yang menunaikan kewajibannya dengan penuh rasa takut akan hari akhir.

Komentar
Posting Komentar