Senin, 02 Desember 2013

Menikahlah dengan Pria yang Sayang Ibu, Mereka Lebih Sukses!


KOMPAS.com – Surga ada di telapak kaki ibu, sebagai seorang anak sepatutnya kita berbakti dan menyayangi kedua orangtua, terutama ibu. Hidup anak yang diiringi doa tulus ibu, biasanya selalu diberikan kemudahan dan kelancaran.

Salah satu tipe pria yang seringkali dihindari oleh perempuan adalah pria yang manja, atau biasa disebut dengan istilah ‘anak mami’. Tapi tunggu dulu, jangan langsung antipati terhadap pria yang dekat dengan ibunya. Sebuah temuan dari Grant Study, Harvard University,  justru mengungkapkan bahwa si ‘anak mami’, ternyata memiliki potensi sukses lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki hubungan kurang baik dengan ibunya.

Lebih lanjut, studi tersebut memaparkan bahwa pria yang memiliki hubungan harmonis dan hangat dengan ibunya, secara konsisten mengalami peningkatan karier dan tentunya gaji bulanan serta bonus tahunan yang lebih tinggi.  Sedangkan, pria yang selalu bersitegang dan cekcok dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan dan ‘tangga’ kariernya berjalan lambat. Bahkan, tak sedikit dari mereka menjalani profesi dengan jenjang karier yang tidak berkembang, alias mandek!

Bahkan, penghasilan bulanan yang diperoleh pun mempelihatkan kesenjangan yang signifikan. Pria yang berbakti dengan ibunya diketahui memperoleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Skala perbandingannya, kira-kira seperti ini, jika pria yang dekat dengan ibunya dalam setahun bisa menerima penghasilan sebesar Rp 200 juta, maka pria yang tidak dekat dengan ibunya hanya Rp. 130 juta saja!

Sebagai informasi tambahan, pria yang menyayangi ibunya selalu menunjukkan performa kerja yang lebih mumpuni, dan berpotensi mencapai posisi puncak di perusahaan tempat mereka bekerja. Selain itu, risiko mereka terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah.

Lalu bagaimana dengan hubungan anak dan ayah? Apakah memiliki pengaruh terhadap masa depan anak? Ternyata tidak ada sama sekali! Tetapi, hubungan harmonis antara ayah dan anak baru berpengaruh saat anak berusia 75 tahun. Umumnya, mereka dianggap sebagai panutan oleh para cucu. Ini dikarenakan, mereka merasa puas dan bersyukur atas kehidupan yang telah mereka jalani.

Pemicu utama getirnya kehidupan para pria yang kurang dekat dengan ibu adalah alkohol. Karena kurang kasih sayang, mereka melampiaskan frustrasi dan kekosongan hati pada minuman keras. Itulah alasannya, mengapa konsentrasi dan fokus mereka tidak setajam pria yang menyayangi ibunya.

Grant Study adalah penelitian mengenai hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula di tahun 1938 dan masih berjalan hingga sekarang. Studi ini dihelat dua tahun sekali, dengan meneliti dan mengevalusi kehidupan 268 mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih berstatus mahasiswa, lulus, bekerja, menikah dan seterusnya.

George Vaillant, Direktur yang memimpin studi ini telah merilis buku bertajuk Triumphs of Experience, The Men of The Harvard Grant Study. Pada bukunya George menuliskan, “Setelah 75 tahun dan milyaran uang dikucurkan sebagai akomodasi, ternyata kunci sukses manusia adalah cinta dan kasih sayang yang tulus,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar